Kontes Kapal Cepat Tak Berawak Nasional 2014, Barunastra Raih Dua Gelar
19 November 2014 10:00:08
   
 

Dua Gelar berhasil diamankan oleh tim Barunastra ITS dalam Kompetisi Kapal Cepat Tak Berawak Nasional (KKCTBN) 2014 yang digelar di Universitas Indonesia. Pada kompetisi yang digelar selama tiga hari sejak Kamis (6/11) itu, tim Barunastra ITS mampu meraih gelar juara 3 dan best design. Namun, jika ditilik lebih lanjut, hasil ini tidak lebih bagus dari capaiannya di tahun lalu. Apa penyebabnya?

 

Dua tim ITS yang berlaga dalam kompetisi yang digelar oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) itu adalah Barunastra-Nala-Evo dan Barunastra-Astramaya. Pada kompetisi tersebut, tim Barunastra-Astramaya sukses keluar sebagai juara 3 pada kategori kapal cepat dengan sistem manual (Remote Control). Sedangkan tim Nala-Evo mampu meraih gelar best design pada kategori kapal autonomous (otomatis).

Dwiki Novaditya, ketua tim Barunastra-Nala-Evo mengatakan hasil ini memang menurun jika dibanding gelaran sebelumnya. Di tahun 2013, lanjutnya, ITS mampu meraih juara pertama. Sedangkan pada tahun ini mereka hanya mampu mengamankan posisi ketiga pada kategori remote control. “Memang menurun, tapi dari segi performa kita lebih baik, motor juga lebih bagus,” ujarnya.

Kegagalan mempertahankan gelar tersebut ia katakan tak terlepas dari beberapa kejadian yang tidak diduga oleh kedua tim ITS. Seperti format perlombaan yang berubah dan kendala lain yang tiba-tiba terjadi saat race berlangsung. “Sebenarnya saat trial kita sudah bagus, tapi ternyata regulasi dari dewan juri diubah saat TM (technical meeting, red). Kita nggak siap,” tuturnya.

Pada kategori autonomous, pihak juri ternyata menentukan bahwa setiap kapal yang berlomba dilarang menggunakan sensor jarak saat race. Sedangkan tim Nala-Evo sudah mempersiapkan sensor jarak itu pada kapal yang dirancang. “Akhirnya kita tetap race tanpa melepas sensornya,” imbuh mahasiswa Jurusan Teknik Sistem Perkapalan ITS tersebut.

Ia mengaku sikap protes sempat dilancarkan oleh tim ITS, namun tak berpengaruh mengingat itu telah menjadi kesepakatan bersama seluruh tim lainnya. “Mereka beranggapan kalau kita memakai sensor jarak, pasti kapal kami yang menang. Kami sempat protes ke Dikti juga. Namun sayang, ini merupakan keputusan bersama,” jelas mahasiswa asal Jember ini.

Sementara hal berbeda justru datang pada tim Astramaya. Dwiki menjelaskan tim tersebut sejatinya bisa saja meraih juara pertama. Namun sayang, hal tak terduga justru hadir saat race berlangsung. Saat itu kapal milih Astramaya tiba-tiba berhenti di tengah-tengah race disebabkan oleh patahnya poros propeller-nya. “Padahal waktu kita sudah bagus. Karena berhenti, maka kita harus puas denngan waktu tempuh selama 22,89 detik,” imbuhnya. Akhirnya mereka harus puas menempati posisi ketiga.

Pun demikian, tim ITS juga patut berbangga diri. Selain mengamankan dua gelar tersebut, mereka juga sukses menjuarai kategori Fun Race. Kategori tersebut merupakan perlombaan khusus yang digelar oleh panitia KKCTBN UI. “Kita sukses meraih juara pertama setelah tiga kali bertanding,” terang Dwiki.

Dengan hasil ini, Dwiki mengatakan pihaknya akan mengadakan evaluasi. Sehingga impian untuk turut berlaga dalam kontes kapal cepat di Virginia, Amerika Serikat bisa tercapai. “Kita akan persiapkan lebih matang lagi,” pungkas mahasiswa angkatan 2012 tersebut.
< Berita sebelumnya | Berita Selanjutnya >